oleh

Puluhan Rumah Warga Terendam Banjir, BPBD Tidak Siapkan Tempat Warga Memilih Tetap Tinggal

Sekilas Daerah, Sumenep – Curah hujan dengan intensitas tinggi kembali mengguyur wilayah Sumenep pada Rabu (6/1). Akibatnya, puluhan rumah warga terendam sekitar 50 sentimeter. Puluhan rumah itu tersebar di Desa Nambakor, Kecamatan Saronggi, dan Desa Patean, Kecamatan Batuan.

Ardi, warga Desa Nambakor, Kecamatan Saronggi, menuturkan, genangan air di pekarangan rumahnya terjadi sejak hujan pada Selasa (5/1). Namun, saat itu ketinggian air masih sampai mata kaki dan tidak begitu mengkhawatirkan. Sebab, hal itu memang biasa terjadi saat hujan lebat.

Air semakin tinggi dan mengkhawatirkan setelah hujan lebat kembali turun pada Rabu (6/1). Ketinggian air yang mencapai 50 sentimeter mulai memasuki ruang tamu. Akibatnya,  semua perabotan rumah dievakuasi ke tempat yang lebih tinggi.

Baca Juga: Dua Kali Mangkir Dipanggil Polisi Akhirnya Dirut PT Wiraraja Madura-Marina Destination Penuhi Panggilan Polisi

Menurut dia, hal itu terjadi karena saluran air di sekitar rumahnya sudah tidak mampu menampung volume air. Ardi berharap ada penanganan lebih serus dari pemerintah. Terutama, penanggulangan agar banjir tidak kembali terjadi.

Ardi menerangkan, banjir kali ini merupakan yang terbesar beberapa tahun terakhir. Warga terdampak biasanya mengungsi ke rumah sanak famili sambil menunggu air surut. Diprediksi, dengan ketinggian air saat ini, air masih akan surut setelah 4 hari jika hujan tidak mengguyur lagi.

“Di sini memang pernah banjir. Dibandingkan tahun sebelumnya, banjir kali ini lebih parah,” jelasnya.

Kepala BPBD Sumenep Abd. Rahman Riadi mencatat 65 rumah terdampak banjir. Perinciannya, 33 rumah di Desa Patean dan 32 rumah di Desa Nambakor. Pihaknya telah meninjau dan membagikan bantuan sembako kepada para korban.

Baca Juga: Ra Latif Sapa Warga, Bagikan Sembako dan Bedah Rumah

BPBD belum menyiapkan tempat khusus untuk pengungsian warga terdampak. Semua itu atas keinginan warga yang memilih tetap tinggal di rumah masing-masing. Sebab, ketinggian air belum begitu parah karena masih di bawah lutut orang dewasa.

Rahman mengaku telah mengevakuasi tempat tidur warga ke tempat yang lebih tinggi.

“Kami juga sudah berkoordinasi dengan pemerintah desa setempat. Katanya, tidak perlu tempat pengungsian khusus,” tuturnya. 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed