oleh

Pica: Kegemaran Mengkonsumsi Sesuatu yang Tidak Lazim Dikonsumsi

Sekilas Kesehatan – Kisah Nenti, pemulung berusia 50 di Indramayu, Jawa Barat adalah kemelaratan yang dibalut masalah makan. Ia tengah jadi perbincangan gara-gara doyan memakan silet saban hari selama 25 tahun terakhir. 

“Rasanya seperti makan kerupuk,” kata Nenti kepada Tribunnews.

Dalam sehari, Nenti bisa menghabiskan empat buah silet sampai-sampai tidak perlu makan nasi. Kebiasaan ini dimulai sejak diberi ilmu kebal semasa bekerja sebagai seniman kuda lumping di Cirebon.

Namun, kemudian usaha itu tutup, membuatnya banting setir jadi pemulung bersama suaminya. Setahun terakhir keduanya tinggal di bekas toilet umum karena rumah mereka hancur terkena bencana alam dan tak punya keluarga lagi.

Ekonomi keluarga Nenti sangat payah. Sebelum menemukan toilet tak terpakai, ia dan suaminya sempat tinggal di kuburan. Mereka juga kesulitan mencari air minum, terpaksa menadah air hujan untuk dikonsumsi. Pun membeli silet yang harganya lumayan, Nenti sering tak mampu membelinya.

Tapi ia terus makan silet karena jika setop, ia akan merasa lemas, mual, dan pusing. Menurutnya, dengan makan silet ia bisa memulung seharian tanpa merasa lelah dan tidak pernah sakit.  

Baca Juga: Ini Kisah Gerwani Tentang Kekerasan Seksual dan Kawin Paksa

Apa yang dialami Nenti dalam dunia medis disebut pica, kelainan yang ditandai kegemaran makan sesuatu yang tidak umum dimakan dan tidak mengandung nutrisi. Kelainan ini dianggap berbahaya karena bisa jadi hal yang dimakan mengandung bahan kimia berbahaya, atau saking tidak bergizinya, membuat pengidapnya malnutrisi. Tapi pica tidak dianggap sebagai gangguan psikologis.

Jika dokter menemukan pengidap pica, biasanya ia akan langsung diperiksa untuk dipastikan apakah mengalami anemia zat besi, malnutrisi, usus buntu, atau keracunan sesuatu. Pasien juga akan diobservasi untuk mencari adakah infeksi dalam tubuh akibat kebiasaan makannya.

Pengobatan yang diberikan berupa terapi, setelah sebelumnya dokter mengecek rekam medis pasien untuk mencari tahu kaitan kelainan makan ini dengan tingkat kecerdasan, cacat perkembangan pasien, maupun tendensi obsessive compulsive disorder (OCD).  

Baca Juga: Hari Ibu Lahir dari Kongres Perempuan Tahun 1928

Kelainan pica bukan hal langka di Indonesia. Sebagian kasusnya ditemukan pada orang dari kelas ekonomi bawah, kemungkinan karena kelainan mereka tak bisa segera diperiksakan kepada dokter. 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed