oleh

Petani Desa Belanti Siam Keluhkan Penurunan Hasil Produksi Padi

Sekilas Daerah, Pulang Pisau – Program lumbung pangan atau food estate yang dicanangkan pemerintah pusat membuat Petani Desa Belanti Siam, Kecamatan Pandih Batu, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah, mengeluh lantaran terjadi penurunan hasil produksi padi di wilaya mereka, itu disampaikan oleh Kepala Desa Belanti Siam, Amin Arifin, Rabu (27/1/2021) dilansir dari Antara.

Menurut Amin satu di antara penyebabnya adalah perubahan pola tanam yang biasa hanya dua kali tanam dalam setahun menjadi harus tiga kali dalam satu tahun, mengikuti anjuran pemerintah.

“Pemerintah mengajurkan perubahan pola tanam menjadi tiga kali dalam satu tahun, sementara kebiasaan petani di desaini menerapkan pola dua kali tanam dalam satu tahun,” kata Amin.

Amin menceritakan bahwa sebelumnya pemerintah sudah melihat situasi tanah atau lahan yang ada bisa ditanami atau tidak untuk tiga kali panen, sehingga mempercepat waktu tanam.

Menurut kebiasaan petani di desanya hanya dua kali tanam saja.

Alhasil, dari lahan yang dicoba seluas 1.000 hektare, hampir 90 persen petani tidak mendapatkan hasil panen yang memuaskan, meski tidak semua lahan yang gagal.

Baca Juga: Polsek Sepang Lakukan Patroli Terkait Food Estate Ini Pesan Kapolsek Sepang

“Padahal petani sudah menyampaikan dan menegaskan bahwa kebiasaan atau tradisi petani di daerah setempat kami hanya dua kali tanam saja, namun pemerintah akhirnya memajukan musim tanam dengan membantu saprodi (sarana produksi) kepada petani,” terang Amin dilansir dari Tirto.id

Petani di desanya saat ini hanya memperoleh hasil 1,5 ton dalam lahan seluas satu hektare, bahkan ada yang di bawah angka tersebut.

Padahal menurutnya, biasanya mereka bisa menghasilkan 3,5 sampai 4 ton gabah. Bahkan, apabila menggunakan varietas hibrida dan ditanam secara manual, hasil panen petani bisa mencapai 5-7 ton dalam satu hektare lahan.

Untuk itulah, Amin menyampaikan bahwa para petani di desanya meminta agar pola tanam yang sudah menjadi kebiasaan petani setempat kembali, yakni menolak anjuran tiga kali tanam dalam satu tahun.

“Ada petani yang menyatakan istirahat hingga menunggu musim tanam yang tepat yaitu bulan Maret dan April. Beberapa kelompok lain juga menanam sesuai dengan tradisi petani sebelumnya karena kondisi alam yang tidak bisa dipaksakan seperti kemauan pemerintah meski didukung dengan saprodi yang lengkap,” pungkas Amin.

Zefi

Penulis

DS

Editor

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed