oleh

Mantan Pilot Pesawat Sriwiwjaya SJ-182 Kapten Rama Noya Buka Suara Soal Jatuhnya Pesawat Sriwijaya

Sekilas News – Kapten Afwan bukanlah satu-satunya pilot yang pernah mengemudikan pesawat Sriwijaya Air SJ 182. Pasalnya, sebelumnya pesawat yang jatuh di Kepulauan Seribu pada Sabtu (9/1/2021) itu pernah juga dipiloti oleh Kapten Rama Noya.

Kapten Rama yang kini menjadi Wakil Ketua Ikatan Pilot Indonesia itu menceritakan pengalamannya saat menjadi pengendali utama pesawat seberat 60 ton tersebut. Kapten Rama terlebih dulu mengomentari insiden tersebut. Kata dia, jika melihat reporting yang ada, Pilot Afwan sudah mengikuti standar dan ketentuan yang ada. Artinya sudah sesuai prosedur alias on the track.

Akan tetapi saat ditanya seputar penyebab jatuhnya SJ 182, Kapten Rama enggan berbicara lebih jauh.

“Apakah terkena awan atau hal lain, saya tidak bisa analisa atau bicara kalau hanya berpendekatan dari flight radar saja. Karena data itu akurasinya masih tidak tepat. Jadi untuk kejelasannya lebih baik menunggu black box ditemukan. Sebab data yang diperoleh KNKT akan lebih akurat,” katanya saat live di Kompas TV, Senin (11/1/2021).

Baca Juga: Ini Sosok Seorang Kapten Afwan Menurut Pengakuan Mantan Pramugari Sriwijaya Air

Pada kesempatan itu, dia lantas membagikan pengalamannya saat mengemudikan SJ182. Kata dia, sebenarnya pesawat tersebut cukup bisa diandalkan. Bahkan jenis Boeing 737-500 itu juga dipakai di seluruh dunia, mulai dari Amerika Serikat, Inggris, sampai Rusia.

“Secara performa, Boeing 737-500 cukup baik, dan andal, seperti jenis 737 lain. Dan pesawat ini cukup mudah diterbangkan untuk seorang pilot. Saya merasakan sendiri dari seri ini,” katanya.

Tak kalah penting, katanya, dari data yang dia terima, Sriwijaya SJ 182 dalam kondisi layak terbang. Ini bisa dibuktikan dari catatannya.

“Dari catatan Pilot sebelumnya tidak ada keluhan. Pesawat itu juga sebelumnya lakukan penerbangan dari Cengkareng ke Pontianak, lalu ke Cengkareng lalu untuk selanjutnya menuju Pontianak kembali. Secara teknis pesawat cukup bagus,” kata dia.

Hal ini menandakan tak ada yang janggal dengan kondisi pesawat sebelum akhirnya jatuh ke perairan Kepulauan Seribu. Kapten Rama kemudian menyinggung jika proses perawatan sebuah pesawat termasuk Sriwijaya sangatlah ketat. Di mana pilot juga tak main-main untuk selalu memberikan report tentang kondisi pesawat.

Baca Juga: Kepala Interpol Sampai Tawarkan Bantuan Identifikasi Korban Kecelakaan Sriwijaya Air SJ-182

Sebab tiap pilot juga pasti akan diaudit atas laporannya itu. Andaipun kondisi pesawat termasuk Sriwijaya yang jatuh memang dirasa janggal sejak awal, katanya, sebenarnya pilot berhak untuk membatalkan penerbangan seraya mengkomunikasikan dengan pihak engineering.

Jika tidak, maka, katanya, pilot memang harus menerima segala konsekuensi yang ada. “Pesawat dalam kondisi baik. Kalau dia menolak, si pilot sendiri harus memiliki dasar argumen jika memang merasa pesawat tidak layak, dia berhak menolak,” katanya.(*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed