oleh

Kebakaran di Indonesia Menjadi Satu Di Antara Bencana Iklim Terbesar Di Dunia

Sekilas Opini – Salah satu bencana lingkungan terburuk di dunia saat ini sedang berlangsung di Indonesia. Selama dua bulan terakhir, ribuan kebakaran hutan dan lahan gambut telah terjadi di luar kendali, mencekik seluruh wilayah dalam kabut asap tebal yang beracun.

Kolom asap yang sangat besar dapat dilihat dari luar angkasa. NASA mengambil  foto satelit dari kebakaran gambut di Kalimantan pada 19 Oktober 2015:

Asap tebal dari kebakaran gambut di Kalimantan, Indonesia pada 19 Oktober 2015. (NASA Earth Observatory )

Kebakaran itu sendiri telah menjadi mimpi buruk bagi kesehatan masyarakat, memaksa banyak evakuasi, menewaskan sedikitnya 19 orang, dan memicu penyakit pernapasan pada lebih dari setengah juta orang. Kabut asap berbahaya dan polusi partikulat berbahaya telah menyebar hingga ke Malaysia dan Singapura.

Ini juga mengerikan untuk perubahan iklim. Sepanjang tahun 2015 yang lalu, kebakaran ini telah melepaskan lebih banyak gas rumah kaca ke atmosfer daripada semua bahan bakar fosil yang dibakar setiap tahun di Jerman.

 Setidaknya dalam 38 hari di bulan September dan Oktober, kebakaran di Indonesia menyumbang lebih banyak emisi harian daripada seluruh perekonomian Amerika Serikat.

Bencana kebakaran di Indonesia bukanlah hal baru. Mereka biasanya keluar setiap tahun selama musim kemarau yang berlangsung dari Juli hingga Oktober. Tapi tahun ini berada di jalur untuk menjadi salah satu yang terburuk yang pernah tercatat, dengan hampir 120.000 kebakaran aktif sudah terdeteksi . Jadi apa yang terjadi?

loading…

Tahun 2015

Selama beberapa dekade, petani Indonesia dengan sengaja membakar hutan hujan untuk membersihkan lahan pertanian dan menghasilkan komoditas seperti minyak sawit , bahan populer dalam makanan olahan, kosmetik, dan bahan bakar biodiesel. 

Petani kecil di negara itu secara hukum diizinkan untuk membakar hingga 2 hektar, meskipun penegakannya lemah, dan para ahli mengatakan banyak orang membakar secara ilegal untuk mengambil lahan tambahan.

Masalah sebenarnya dimulai ketika kebakaran ini terjadi di daerah yang kaya gambut , campuran padat seperti tanah dari daun dan cabang yang sebagian membusuk. 

Kebakaran di lahan gambut ini dapat berkembang biak secara tak terkendali, membara di bawah tanah selama berminggu-minggu, menggerogoti tanah, melepaskan polutan beracun dan karbon dioksida dan metana dalam jumlah besar selama ini. 

Kebakaran gambut seringkali tidak berhenti sampai hujan lebat datang untuk memadamkannya.

Tahun 2016

Sementara itu, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya kepada Antara pada 27 Agustus 2016 lalu, ketika merespons sejumlah titik api yang melahap hutan dan lahan dibeberapa provinsi Indonesia.

Pernyataan Siti Nurbaya memang benar adanya. Menurut laporan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sekitar enam provinsi telah berstatus siaga darurat kebakaran hutan dan lahan.

Provinsi itu antara lain, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan.

Kebakaran hutan tak pernah absen dalam daftar persoalan di Tanah Air, hal itu menjadi ancaman serius bagi Indonesia.

Pada 2015, Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa menyebutkan, bencana kabut asap di wilayah Sumatera dan Kalimantan menewaskan kurang lebih 19 orang.

Dari angka itu, 5 orang di antaranya berasal dari Kalimantan Tengah, 5 orang dari Sumatera Selatan, dan 5 orang dari Riau, 1 orang dari Jambi, dan 3 orang dari Kalimantan Selatan

Sementara menurut Dinas Kesehatan Provinsi Riau, dalam periode 29 Juni- 27 September 2015, sebanyak 44.871 orang terkena risiko asap.

Dari angka itu, sebanyak 37.396 orang lainnya menderita ISPA, 656 orang menderita pneumonia, 1.702 orang terkena asma, 2.207 orang menderita penyakit mata, dan penyakit kulit sebanyak 2.911 orang.

Krisis kebakaran dan asap yang terjadi di Indonesia ada tahun lalu disebut sebagai tindakan kriminal lingkungan hidup terbesar pada abad ke 21. Lebih dari 2,6 juta hektare hutan dan lahan gambut terbakar.

Itu berarti 4,5 kali lebih luas dari Pulau Bali.

Ada 14 perusahaan dalam tahap penyusunan sanksi admistrasi, pengawasan 19 perusahaan. Jadi totalnya ada 56 perusahaan disanksi kala itu.

Tetapi, hingga awal Januari 2016, hanya 23 perusahaan yang telah diberikan sanksi pencabutan izin, paksaan pemerintah, dan pembekuan izin.

Tahun 2017

Majelis Hakim Pengadilan Tinggi Palangkaraya memvonis Presiden Joko bersalah atas bencana asap yang terjadi akibat kebakaran hutan dan lahan tahun 2015.

Menurut data dari Karhutla Monitoring System, luas kebakaran hutan dan lahan pada tahun 2015 ada sebesar 261.060,44 Ha.

Provinsi Kalimantan Tengah merupakan daerah yang kebakaran hutan dan lahannya paling luas, yaitu 122.882,90 Ha.

Sementara pada 2017, luas wilayah yang mengalami kebakaran menurun menjadi 11.127,49 Ha.

Tahun 2018

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati pada Munas Ke 10 Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) di Jakarta, Kamis (15/3/2018) mengatakan, pada Mei-Agustus 2018, Indonesia memasuki musim kering namun tidak merata.

Sementara itu, hingga Mei, cuaca dikategorikan dalam kondisi “weak” La Nina.

“Potensi kebakaran hutan dan lahan tetap ada dan harus diantisipasi sejak dini,” katanya dalam Munas bertema “Kemitraan dengan petani sawit Demi kesejahteraan bangsa” yang berlangsung 14-16 Maret 2018 itu seperti dilansir Antara.

Menurut Rita, sebagian wilayah di Sumatera, Jawa dan Kalimantan, pada bulan Maret telah memasuki puncak musim kering, karena itu, potensi hutan terbakar tetap ada dan harus diantisipasi.

Tahun 2019

Kebakaran lahan dan hutan di Provinsi Riau semakin meluas mencapai area seluas 841,71 hektare (ha) sepanjang 2019 menurut data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat.

“Luas lahan terbakar dari 1 Januari sejumlah lebih kurang 841,71 hektare,” kata Kepala Pelaksana BPBD Riau Edwar Sanger di Pekanbaru, Senin (18/2/2019), mengenai luas area yang terbakar di Bumi Lancang Kuning.

Total luas area yang terbakar menurut Pusat Data dan Informasi BPBD Riau melonjak hingga hampir 100 persen dalam tiga hari terakhir.

Pada 15 Februari 2019, total luas lahan yang terbakar baru sekitar 497 hektare.

Edwar mengatakan Kabupaten Bengkalis merupakan wilayah yang paling parah terdampak kebakaran sepanjang awal tahun ini, dengan luas lahan yang terbakar 626 hektare, mayoritas lahan gambut.

Angka itu juga naik tajam dalam tiga hari terakhir karena pada 15 Februari luas lahan yang terbakar di salah satu kabupaten terkaya Indonesia itu tercatat 322 hektare.

Pemerintah Bengkalis telah menetapkan status siaga kebakaran hutan dan lahan, dan sampai sekarang masih berjibaku memadamkan kebakaran lahan yang melanda daerah seperti Rupat, Bantan, dan Talang Muandau.

Tahun 2020

Indonesia masih harus waspada melewati penghujung 2020. Pasalnya, data-data historis memperlihatkan puncak karhutla umumnya terjadi setiap Oktober.

Sejak kebakaran dahsyat yang melenyapkan 2.611.411,44 hektar hutan dan lahan di Indonesia pada 2015, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) memang berhasil ditekan, namun nahas tiga tahun berselang karhutla kembali membabi buta. Pada 2018, lebih dari 529 ribu hektar hutan dan lahan terbakar, tiga kali lipat dari rekapitulasi luas karhutla pada 2017. Setahun setelahnya karhutla kembali menimpa seluruh provinsi kecuali DKI Jakarta, menghanguskan 1,6 juta hektar hutan dan lahan. Jumlahnya bahkan melebihi akumulasi luas karhutla pada 2016-2018.

Kendati Februari 2020, Presiden Jokowi telah memberlakukan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 3 Tahun 2020 sebagai upaya penguatan pencegahan dan penegakan hukum dalam menanggulangi karhutla di Indonesia, karhutla kembali terjadi sepanjang tahun ini.

Pantauan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) memperlihatkan hingga akhir September 2020, api telah membakar lebih dari 120 ribu hektar hutan dan lahan di 32 provinsi.

Enam provinsi langganan karhutla pun lagi-lagi tak bisa mengelak dari bencana klimatologi ini. B

NPB merangkum, Riau, Sumatera Selatan, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan, telah menerapkan status siaga darurat menyusul terjadinya karhutla di masing-masing provinsi.

Di Riau, karhutla terpantau di sejumlah wilayah kabupaten, seperti Dumai, Bengkalis, Meranti dan Indragiri Hilir.

KLHK mencatat, luas karhutla di ptovinsi ini telah mencapai 15 ribu hektar, lebih luas dari total karhutla di seluruh pulau Kalimantan yakni 12 ribu hektar.

Sementara luas karhutla di Sumatera Selatan dan Jambi tergolong rendah, masing-masing berkisar 800 dan 500 ribu hektar.

Itulah mengapa kebakaran dan kerusakan hutan sangat berdampak bagi kehidupan manusia dan keseimbangan alam.

Manusia membutuhkan hutan sebagai sumber penghidupan dan peredam perubahan iklim yang kian mengkhawatirkan.

Perlindungan terhadap hutan seharusnya bukan hanya terhadap komoditas barang bernilai ekonomis yang dapat hutan hasilkan tapi juga terhadap kualitas ekosistem hutan itu sendiri.

Penting untuk memastikan kawasan hutan tetap sebagaimana mestinya, tidak mengalami perubahan fungsi atau sampai kehilangan tutupannya, demi kelestarian lingkungan.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed