oleh

Ini Perbedaan PKWT dan PKWTT yang Wajib Anda Ketahui

Sekilas Ketenagakerjaan – Saat mencari dan sudah mendapat pekerjaan suatu perusahaan penerima upah / Pekerja yang bekerja baik jenisnya badan usaha yang berbadan hukum dan bukan badan hukum, Anda akan menemukan istilah PKWT dan PKWTT.

Belum banyak penerima upah / pekerja saat melakukan pekerjaan di suatu perusahaan tahu dengan kedua istilah PKWT dan PKWTT, keduanya sangat penting untuk diketahui oleh pekerja atau penerima upah dari suatu perusahaan (badan usaha) yang berbadan hukum atau pun bukan badan hukum.

PKWT dan PKWTT adalah kontrak kerja yang wajib kamu pahami sebelum menerima suatu pekerjaan. Karena kesepakatan kerja yang disetujui nanti berdampak kepada status dan benefit yang diterima selama bekerja.

Anda wajib memahaminya agar terhindar dari sesuatu yang tidak diinginkan dan menyesali keputusan yang sudah diambil.

Definisi PKWT

Dalam Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi  No.100/MEN.IV/2004 dijelaskan bahwa Perjanjian Kerja Waktu Tertentu atau disingkat PKWT adalah perjanjian kerja antara pekerja dengan pemberi kerja untuk mengadakan hubungan kerja dalam waktu tertentu.

Karyawan dengan perjanjian kerja bestatus PKWT dapat disebut karyawan kontrak atau hanya sementara.

Meski dalam praktiknya perjanjian kerja ini dapat diperpanjang atau diperbaharui.

Namun berdasarkan aturan dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003, perusahaan tidak bisa memberikan status PKWT pada semua jenis pekerjaan.

PKWT hanya dapat dibuat untuk pekerjaan tertentu menurut jenis dan sifat atau kegiatan pekerjaannya akan selesai dalam waktu tertentu.

Pekerjaan yang penyelesaiannya diperkirakan tidak terlalu lama, dan paling lama 3 tahun; pekerjaan yang sifatnya musiman; dan pekerjaan yang berhubungan dengan produk baru, kegiatan baru, atau produk tambahan yang masih dalam percobaan atau penjajakan. 

Ketentuan PKWT dalam setiap jenis pekerjaan tersebut yang diatur lebih lanjut dalam Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi:

  1. Selesai atau sementara sifatnya yang penyelesaiannya paling lama 3 (tiga) tahun 
  • PKWT harus mencantumkan batasan waktu kapan  pekerjaan dinyatakan selesai
  • Bila pekerjaan tertentu yang diperjanjikan dalam PKWT tersebut selesai lebih cepat dari yang diperjanjikan maka PKWT akan terputus secara hukum saat pekerjaan selesai.
  • Bila karena kondisi tertentu pekerjaan belum dapat diselesaikan, maka dapat dilakukan pembaharuan PKWT. 
  • Pembaharuan dilakukan setelah melebihi masa tenggang waktu 30 hari setelah berakhirnya perjanjian kerja. Selama tenggang waktu tersebut tidak ada hubungan antara pekerja dan pengusaha. 
  • Ketentuan pembaharuan perjanjian kerja dapat diatur kembali oleh para pihak terkait.

2. Pekerjaan musiman 

  • Pekerjaan yang bersifat musiman adalah yang pelaksanaannya tergantung pada musim atau cuaca.Untuk jenis pekerjaan ini, PKWT hanya dapat dilakukan pada satu jenis pekerjaan pada musim tertentu. 
  • Harus dilakukan untuk memenuhi pesanan atau terget tertentu juga dapat dilakukan dengan PKWT sebagai pekerjaan musiman. PKWT unuk pekerjaan ini hanya diberlakukan untuk pekerja/buruh yang melakukan pekerjaan tambahan. Pengusaha yang mempekerjakan pekerja/buruh berdasar PKWT ini harus membuat daftar nama pekerja/buruh yang melakukan pekerjaan tambahan.
  • PKWT untuk pekerjaan musiman tidak dapat diperbaharui

3. Pekerjaan yang berhubungan dengan produk/kegiatan baru atau produk tambahan yang masih dalam percobaan atau penjajakan 

  • Jenis pekerjaan ini hanya dapat dilakukan untuk jangka waktu paling lama 2 tahun dan dapat diperpanjang untuk satu kali paling lama 1 tahun. 
  • PKWT jenis ini tidak dapat diperbaharui 
  • PKWT jenis ini hanya boleh diberlakukan bagi pekerja/buruh yang melakukan pekerjaan di luar kegiatan atau di luar pekerjaan yang biasa dilakukan perusahaan.  

4. Pekerja harian/lepas 

  • Pekerjaan tertentu yang berubah-ubah dalam hal waktu dan volume pekerjaan serta upah yang didasarkan pada kehadiran dapat dilakukan dengan perjanjian kerja harian lepas 
  • Perjanjian kerja ini dilakukan dengan ketentuan pekerja/buruh bekerja kurang dari 21 hari dalam 1 bulan. 
  • Perjanjian kerja harian lepas yang memenuhi dua ketentuan di atas dikecualikan dari ketentuan jangka waktu PKWT pada umumnya
  • Dalam hal pekerja/buruh bekerja 21 hari atau lebih selama 3 bulan berturut-turut, maka perjanjian kerja harian lepas akan berubah menjadi PKWTT 
  • Pengusaha wajib membuat perjanjian kerja harian lepas secara tertulis berupa daftar pekerja/buruh yang melakukan pekerjaan  dengan memuat sekurang-kurangnya nama/alamat perusahaan atau pemberi kerja; nama/alamat pekerja/buruh; jenis pekerjaan yang dilakukan; besarnya upah/imbalan. 
  • Daftar pekerja/buruh harian lepas ini harus disampaikan pada instantsi yang bertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan setempat selambat-lambatnya 7 hari sejak mempekerjakan pekerja/buruh.
PKWT diperpanjang dan diperbaharui

PKWT dapat diadakan paling lama 2 (dua) tahun dan hanya dapat diperpanjang 1 (satu) kali untuk jangka waktu paling lama 1 (satu) tahun, dengan syarat pengusaha memberitahukan secara tertulis kepada pekerja paling lama 7 (tujuh) hari sebelum PKWT berakhir. 

Sedangkan PKWT diperbaharui setelah melebihi masa tenggang waktu 30 hari berakhirnya PKWT yang lama dan hanya boleh dilakukan 1 (satu) kali dan paling lama 2 (dua) tahun.

Perbedaan keduanya adalah dalam perpanjangan PKWT, PKWT itu diperpanjang sebelum jangka waktunya berakhir. Sedangkan dalam pembaharuan PKWT, PKWT itu diperbaharui sesudah jangka waktunya berakhir 30 hari.

Baca Juga: Kemenaker Siap 500 Ribu Pekerja Terampil Dukung Destinasi Wisata
Definisi PKWTT

Berbeda dengan PKWT, Perjanjian Kerja Waktu Tidak Tertentu atau PKWTT adalah perjanjian kerja antara pemberi kerja dengan pekerja untuk mengadakan perjanjian kerja atau hubungan kerja yang bersifat tetap. Berbeda dengan PKWT, kontrak kerja PKWTT ini boleh diberlakukan untuk berbagai jenis pekerjaan.

Sesuai dengan namanya, perjanjian kerja waktu tidak tertentu atau PKWTT ini bersifat terus-menerus dan tidak dibatasi oleh waktu. Dengan kata lain, karyawan yang memiliki kesepakatan kerja PKWTT berstatus sebagai karyawan tetap.

Berdasarkan perbedaan tersebut, jelas jika PKWTT ini lebih menguntungkan dibandingkan dengan PKWT. Sebagai seorang karyawan, memiliki kontrak kerja PKWTT akan lebih baik karena tidak perlu khawatir memikirkan masa depan kariernya karena memiliki status pekerjaan yang tetap. Berbeda dengan karyawan dengan kontrak kerja PKWT memiliki masa kerja terbatas atau sementara.

Dalam PKWTT juga dapat disyaratkan masa percobaan kerja paling lama 3 bulan. Meski demikian dalam masa percobaan tersebut pengusaha dilarang membayar upah di bawah upah minimum. 

PKWT sendiri dapat berubah menjadi PKWTT dengan beberapa ketentuan, misalnya: 

  • Jika PKWT tidak dibuat dalam bahasa Indonesia dan huruf latin maka perjanjian kerja akan berubah menjadi PKWTT sejak adanya hubungan kerja
  • Bila pembuatan PKWT tidak memenuhi ketentuan  pasal 4  ayat 2 dan pasal 5 ayat 2 dalam  Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi  No.100/MEN.IV/2004 maka PKWT menjadi PKWTT sejak adanya hubungan kerja 
  • JIka PKWT untuk pekerjaan yang berhubungan dengan produk baru menyimpang dari ketentuan pasal 8 ayat 2 dan 3  Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi  No.100/MEN.IV/2004, maka PKWT berubah jadi PKWTT sejak dilakukan penyimpangan 
  • Bila pembaharuan PKWT tidak melalui masa tenggang waktu 30 hari setelah berakhirnya perpanjangan PKWT dan tidak diperjanjikan lain sebagaimana dimaksud dalam pasal 3  Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi  No.100/MEN.IV/2004 maka PKWT berubah jadi PKWTT sejak tidak terpenuhinya syarat PKWT tersebut 
  • Bila pengusaha mengakhiri hubungan kerja dengan  PKWTT sebagaimana dimaksud di  pasal 15 ayat 1,2 ,3, dan 4 maka hak pekerja dan prosedur penyelesaian dilakukan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan PKWTT 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed