oleh

Indonesia Menerapkan Hukuman Kebiri, Simak Daftar Beberapa Negara yang Menerapkan Hukuman yang Sama…

Sekilas Opini – Perdana Menteri Pakistan, Imran Khan pada September 2020 lalu dalam sebuah wawancara televisi mengatakan bahwa tindakan pengebirian terhadap pemerkosa dan pedofil yang terhukum sangatlah penting ada untuk mencegah terjadinya tindak pidana kekerasan seksual.

Metode pengebirian itu sendiri ada dua metode sejauh ini yang dikenal secara umum yaitu, dilakukan dengan metode Surgical Castration (Kebiri Bedah) yang mana menghilangkan keberfungsian testis atau dengan Chemical Castration (Kebiri Kimia) yang mana prosedur ini berlaku hanya untuk laki-laki dewasa yang mana digunakan untuk mengurangi dorongan seksual. Di sini, zat kimia yang digunakan untuk mengurangi dorongan seksual, fantasi seksual kompulsif, dan kapasitas untuk gairah seksual berkurang.

Penelitian yang dilakukan oleh Jang Group dan Geo Television Network menunjukkan bahwa setidaknya ada tiga negara telah memberlakukan undang-undang kebiri sebagai hukuman bagi pemerkosa. 

Dilansir dari BBC News, CNN, Amnesty International, The Jakarta Globe, Independent, dan Daily Mirror of UK, negara-negara yang menghukum pemerkosa melalui kebiri antara lain:

Baca Juga: Presiden Jokowi Resmi Tanda Tangan Aturan Mengenai Kebiri terhadap Pelaku Kekerasan Seksual pada Anak

Indonesia

Parlemen Indonesia pada Oktober 2016 telah mengesahkan Undang-undang (UU) Nomor 17 Tahun 2016 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2016 Tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak Menjadi Undang-Undang. Ini Merupakan undang-undang yang mengesahkan kebiri kimia secara legal dilakukan menyusul sejumlah kasus kekerasan seksual terhadap anak-anak di Indonesia meningkat. Aris, Pria pertama yang divonis kebiri kimia pada 2019 dikatakan Aris akan menjalani hukuman penjaranya terlebih dahulu, baru akan dikenakan hukuman kebiri.

Republik Ceko

Republik Ceko melakukan Surgical Castration (Kebiri Bedah) bagi para terpidana kekerasan seksual. Undang-undang tersebut diperkenalkan pada tahun 1966. Menurut angka resmi, sudah ada 85 orang menjalani Surgical Castration (Kebiri Bedah) di Republik Ceko antara tahun 2000 dan 2011. Meskipun, praktik ini menuai kecaman keras dari kelompok hak asasi manusia.

Ukraina

Parlemen Ukraina pada Juli 2019 telah menyetujui tindakan untuk mengebiri secara kimiawi para terpidana pemerkosaan (rapists forcibly). Undang-undang tersebut pun berpotensi berlaku bagi individu yang berusia antara 18 dan 65 tahun yang dinyatakan bersalah melalui putusan pengadilan dan terbukti telah melakukan pemerkosaan atau pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur.

Bukan hanya di Indonesia, Ceko, dan Ukraina saja, beberapa waktu lalu anggota parlemen Nigeria telah mengejutkan dunia dengan menyetujui Surgical Castration (Kebiri Bedah) sebagai hukuman bagi mereka yang dihukum karena pemerkosaan terhadap anak-anak di bawah usia 14 tahun. Namun, Gubernur Negara Bagian Kaduna, Nasir Ahmad el-Rufai, dinilai perlu menandatangani Rancangan Undang-Undang (RUU) tersebut agar itu menjadi hukum positif yang berlaku.

Baca Juga: Ini Kisah Gerwani Tentang Kekerasan Seksual dan Kawin Paksa

Dilansir dari The BBC News menyatakan: “Gubernur Negara Bagian Kaduna di Nigeria sebelumnya telah mendukung pengebirian untuk mencegah pemerkosa kembali dilakukan. Langkah tersebut menyusul kemarahan publik atas gelombang pemerkosaan, yang mendorong gubernur negara bagian negara tersebut untuk mengumumkan keadaan darurat. Undang-undang federal menetapkan antara 14 tahun dan penjara seumur hidup sebagai hukuman, tetapi legislator negara bagian dapat menetapkan aturan hukuman yang berbeda. Stigma sering kali menghalangi korban untuk melaporkan insiden pemerkosaan di Nigeria dan jumlah penuntutan dengan tingkat keberhasilan yang rendah.”

Dan pada 11 Juni 2019, negara bagian Alabama di Amerika telah memberlakukan undang-undang yang mewajibkan, sebagai syarat pembebasan bersyarat, bahwa beberapa terpidana kekerasan seksual terhadap anak wajib menjalani “pengebirian kimiawi”. 

The Atlantic menulis: “Undang-undang baru akan berarti bahwa mereka yang melecehkan anak-anak di bawah usia 13 tahun akan disuntik dengan obat penghambat hormon sebelum meninggalkan penjara. Obat tersebut harus diberikan oleh hakim, bukan seorang dokter, yang dianggap tidak perlu lagi. RUU serupa diusulkan beberapa tahun lalu di Oklahoma tetapi mendapat tentangan keras. Bekas republik Soviet Moldova juga mengesahkan undang-undang yang mewajibkan pengebirian kimiawi untuk terpidana kekerasan seksual terhadap anak, pada tahun 2012. RUU tersebut dicabut pada tahun berikutnya dengan alasan bahwa itu adalah “pelanggaran hak asasi manusia.”

Baca Juga: Pengadilan Negeri Depok Tunda Baca Vonis Terdakwa Kasus Kekerasan Seksual di Gereja Santo Herkulanus

Beberapa media di AS juga menambahkan: “Tidak seperti Kebiri Bedah, pengebirian kimiawi tidak melibatkan pengangkatan testis seseorang meskipun sponsor RUU Alabama, Perwakilan Steve Hurst, awalnya menganjurkan pendekatan melalui kebiri bedah. Sebaliknya, prosedur tersebut menggunakan berbagai obat untuk membuat testis tidak berfungsi sama sekali. Dalam kebanyakan kasus, efek samping dari obat sejenis dapat memicu kelenjar pituitari untuk mengurangi testosteron ke tingkat praremaja.”

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed