oleh

Fakta Unik Bupati dan Wakil Bupati Terpilih Sambas dalam Pilkada 2020

“Kami menunggu SK berhenti itu sampai tujuh kali kami minta, bolak-balik. Alhamdulillah dikeluarkan juga, padahal kami cuma minta SK Berhenti tanpa ada pesangon, Saya 16 tahun birokrat,” ujarnya.

Singkat cerita Satono hingga akhirnya didukung oleh Partai Gerindra dan Partai Amanat Nasional (PAN). Datang dari latar belakang birokrat, bukan pengusaha, bukan pula orang partai, Satono mengaku tidak dipandang sedikitpun pada saat itu, namun semua itu ia lalui.

“Sempat diolok-olok, saat mencari perahu politik. Salah satu petinggi partai bahkan bilang saya tidak ada potongan untuk menjadi kepala daerah,” jelasnya.

Baca Juga: Jangan Merokok Saat Isi Bahan Bakar! Kios Terbakar Di Martapura Karena Rokok

Satono sendiri merupakan seorang mualaf keturunan Tionghoa, salah satu suku mayoritas di Sambas. Satono juga dikenal sebagai seorang da’i atau penceramah.

Pria kelahiran Senturang, 2 April 1980 ini adalah Ketua Dewan Dakwah Kabupaten Sambas, Ketua Persatuan Islam Tionghoa Kabupaten Sambas, Ketua Persaudaraan Muslim Indonesia (Parmusi), Sambas, hingga Ketua Yayasan Rumah Bina Da’i, Sambas.

“Ibu dan bapak saya, asli Tionghoa. Saya Islam kelas 3 SMP, lahir dan besar di Sambas, insyahallah saya akan mewujudkan Sambas yang beriman, kemandirian, maju dan berkelanjutan,” pungkasnya.(*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed