oleh

Elsam dan Jakarta Feminist Mencatat Selama 2020 Terjadi 22 Kasus Kekerasan Terkait dengan Lingkungan di 10 Provinsi

Sekilas Lingkungan – Dari laporan yang disusun oleh Elsam dan Jakarta Feminist (2020) mencatat selama tahun ini terjadi 22 kasus kekerasan terkait dengan lingkungan di 10 provinsi dan 14 kota/kabupaten. Kasus ini melibatkan korban sebanyak 48 masyarakat adat, 20 petani, dan seorang jurnalis sementara pelakunya mayoritas adalah polisi dan perusahaan.

Kelompok masyarakat kecil pemanfaat dan pengelola lingkungan justru dihadapi dengan kekerasan baik oleh aparat (resmi) maupun kekuatan preman (tidak resmi) yang sama sekali tak punya kontribusi apapun pada penyelamatan dan pengelolaan lingkungan tempatan.

Baca Juga: Konflik Agraria: Perampasan Ruang Hidup Petani di Pasuruan

Masih segar di ingatan kita tentang kasus konflik antara PT Arta Prigel vs petani di Lahat yang berakhir dengan kematian dua petani, perampasan tanah petani oleh PT Sindoka di Luwu Timur , pembakaran dan pengrusakan mangrove oleh perkebunan sawit di lahan kelola masyarakat di Langkat yang sudah mendapat ijin kelola dari KLHK, pembakaran pondok tani oleh PT MAR Banyuasin, penangkapan Efendi Buhing dari masyarakat adat Laman Kinipan Kalimantan Tengah, serta pembakaran dan pengusiran masyarakat adat Besipae Timor Tengah Selatan oleh polisi, aparat sipil, dan preman adalah sebagian berita-berita yang mewarnai media pada tahun ini.

Fondasi dari kekerasan dan konflik di atas juga tipikal yakni pemberian prioritas dan perlindungan pada pemilik modal oleh negara dan tiadanya keberpihakan terhadap masyarakat selaku pengelola lingkungan dalam setiap konflik tenurial.

Baca Juga: Kontroversi dan Wacana RUU Kelapa Sawit

Prediksi ke depan pun masih menggelayut penuh rasa pesimis, tak lain karena negara pun melakukan hal yang sama yakni program yang ekspasionis di atas tapak-tapak alam yang selama ini dikelola masyarakat justru akan digenjot.

Rangkaian program strategis nasional seperti food estate (lumbung pangan), jalan tol lintas pulau dan proyek Bali Baru dinilai akan menjadi arena konflik baru namun kali ini wasitnya yang jadi pemain.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed