oleh

Eksportir Terbesar, Perikanan Gurita Indonesia Masih Belum Berkelanjutan

Indonesia termasuk 10 besar eksportir gurita global dengan volume ekspor Indonesia sekitar 19 ribu ton per tahun dengan nilai rata-rata USD 98 juta/tahun, yang diekspor ke Italia, Amerika Serikat dan China.

Perikanan gurita di Indonesia belum bersertifikasi berkelanjutan dari MSC karena sulitnya data stok nasional, padahal lebih dari 60% gurita Indonesia diekspor ke negara yang mensyaratkan isu berkelanjutan

Saat ini sejumlah pihak dan lembaga bekerja sama mempraktikkan konsep pengelolaan perikanan gurita berkelanjutan di tingkat nelayan seperti di Kepulauan Banggai, Sulawesi Tengah, di Minahasa Utara Sulawesi Utara dan Wakatobi Sulawesi Tenggara

Saat ini nelayan gurita mengeluhkan turunnya harga jual gurita yang terdampak pandemi karena komoditas ini dibeli dan diolah terutama restoran dan hotel.

Gurita, sumber daya perikanan ini disebut bernilai ekonomis tinggi. Namun saat ini harganya anjlok terdampak pandemi, dan Indonesia masih kekurangan data stok untuk menuju perikanan berkelanjutan.

Aswadi Sahari adalah pengumpul gurita di Desa Bulutui, Minahasa Utara, sejak tahun 1980-an. Saat itu harganya sekitar Rp1500/kg. Pada tahun 1994, harganya meningkat Rp12.500/kg. “Sekarang jadi mata pencaharian warga. Harganya sampai Rp45 ribu, namun tahun ini turun sampai Rp10 ribu karena dampak COVID-19,” sesalnya.

Inilah salah satu hal yang dibahas memperingati Hari Perikanan Dunia untuk mendorong usaha gurita berkelanjutan di Indonesia pada webinar daring, Kamis (19/11/2020) oleh Blue Ventures. Menghadirkan Hendra Yusran Siry, Sekretaris Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut Kementerian Kelautan Perikanan (PRL KKP), Dessy Anggraeni dari Sustainable Fisheries Partnership, Gayatri Reksodihardjo-Lilley Direktur Yayasan LINI, La Beloro Direktur Forkani, Akbar Ario Digdo CEO YAPEKA, Aswadi Sahari, dan Pingkan Katharina Roeroe Koordinator Kelompok Perlindungan dan Pelestarian Jenis Ikan mewakili Direktur Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut Ditjen PRL KKP.

Hendra Yusran Siry berharap pengembangan perikanan gurita ini membawa dampak ekologis. Menurutnya gurita sangat menjanjikan. “Cara penangkapan bisa berkelanjutan dan ramah lingkungan,” katanya.

Dessy Anggraeni memaparkan tren perikanan gurita global. Menurutnya Indonesia harus

bekerja dengan supply chain di hulu dan hilir untuk memperbaiki usaha perikanan menuju berkelanjutan. “Gurita ini masih belum jadi prioritas dari segi data dan lainnya, belum cukup,” sebutnya.

Hampir semua produksi gurita (Octopodidaer) di dunia berasal dari perikanan tangkap. Produksi gurita global menurt data FAO sekitar 420 ribu ton/tahun dan sebagian besar dari usaha perikanan kecil.

Alat tangkapnya tombak serta pancing, ada yang dijual beku, sebagian kecil diawetkan. Indonesia potensial menurutnya potensial karena masuk jadi 10 negara pengekspor di dunia.

Dari sisi ekonomi, ekspor dan perdagangan sebagian besar diperdagangkan secara global, ekspor rata-rata sekitar 290 ribu ton/tahun, nilainya mencapai USD 1.750 juta per tahun. Negara importir utama adalah Uni Eropa (39%), Korea Selatan (30%), Jepang (18%), dan Amerika Serikat.

Pada 2017, Indonesia berkontribusi 4% dari global ekspor termasuk 10 besar di dunia setelah Marocco, China, Spanyol, dan lainnya.

Menurut data statistik perikanan tangkap dari BPS, produksi gurita Indonesia naik turun, 11 ribuan ton per tahun. Menurut Dessy perlu data akurat untuk mencerminkan perikanan gurita.

Volume ekspor Indonesia meningkat sejak 2016-2019 sekitar 19 ribu ton per tahun dengan nilai rata-rata USD 98 juta/tahun. Tujuan ekspor dari Indonesia, menurut data BPS, adalah Italia 27%, Amerika Serikat 18%, dan China 12%. Misalnya di Amerika Serikat saja, pasokan gurita Indonesia sekitar 16% setelah Spanyol 33%.

Isu berkelanjutan menurut Dessy, sangat penting karena lebih dari 60% gurita Indonesia diekspor ke negara yang mensyaratkan isu berkelanjutan seperti Amerika Serikat, Italia, Australia, Jepang, dan lainnya. Persyaratan ini terpenuhi jika mendapatkan sertifikasi Marine Stwardship Council (MSC). “Kalau belum, setidaknya harus sudah melakukan perbaikan. Harus menggunakan alat tangkap ramah lingkungan,” harapnya.

Baru dua negara eksportir gurita yang dapat MSC, Spanyol dan Australia. “Lainnya walau belum tersertifikasi tapi sudah perbaikan, sekitar 6 usaha. Indonesia belum ada yang masuk, semoga kita tetap punya akses pasar,” jelas Dessy.

Penangkapan Berkelanjutan

Produk gurita Indonesia masih masuk kategori to avoid atau merah menurut Seafood Watch List. Ini salah satu pemandu yang dipakai konsumen terutama di Amerika Serikat sebagai pertimbangan membeli atau tidak. Namun to avoid menurutnya tidak berarti sebuah kampanye jika gurita Indonesia tidak bisa dikonsumsi. Sejumlah negara tetap mengimpor namun dengan catatan perbaikan. Ada sejumlah metode yang digunakan pasar untuk menilai pengelolaan berkelanjuan misalnya fishsource.org dan seafoodwatch.org.

Sebagian besar negara pengekspor masih rating merah karena belum bisa menunjukkan stok. Selain kajian stok, ada indikator alat tangkap, dan apakah berdampak dengan spesies lain. Langkah ke depan, kata Dessy adalah perbaikan perikanan gurita (fishery improvement project) menuju berkelanjutan.

Hironimus Pala menyampaikan keluhan karena harga gurita kini anjlok sekitar Rp15 ribu per kg dari rata-rata Rp45-50 ribu. Dari pengalaman pendampinannya di Ende, Flores, hal ini membuat nelayan meninggalkan gurita dan beralih ke perikanan lain. “Adakah informasi harga sampai penangkap gurita? Gurita belum masuk ke sektor dan program pemerintah, ini berpengaruh ke bantuan untuk nelayan gurita,” sebutnya.

Dessy mengakui ada kemungkinan penurunan harga karena sebagian besar dijual ke restoran atau hotel, sementara pengaruh pandemi banyak usaha yang tutup. “Pasar gurita beralih ke retail atau supermarket, kebanyakan produk yang sudah diolah. Saat ini harga perikanan yang tujuannya ke hotel/restoran pasti turun,” jawabnya.

Harga yang ia sampaikan adalah harga resmi statistik saat diekspor. Ada perbedaan harga di tiap level supply chain. Namun ia menyebut perlu ada informasi yang jadi pegangan nelayan. Sejauh ini harga yang diketahui baru di tingkat pengepul.

Vietnam dan China termasuk eksportir, tapi juga tujuan pasar gurita Indonesia. Hal ini menurutnya juga harus didalami dalam supply chain, karena kemungkinan gurita yang diekspor dua negara itu adalah produksi dari Indonesia.

Gurita di Indonesia masih termasuk perikanan skala kecil oleh nelayan kecil, dan ada pengepulnya yang bertingkat tersebar di pulau-pulau terkecil. Rantai pasok berlanjut ke usaha pengolahan, yang diolah seperti permintaan pasar, baru diekspor.

Daerah penghasil gurita adalah Sulawesi, Indonesia bagian timur. Untuk mendapat MSC menurutnya tak mudah, diperlukan kerjasama. “Gurita perikanan selektif tak menggunakan alat tangkap massif, jika didukung neayan bisa melakukan pengelolaan berbasis masyarakat ini jadi peluang besar untuk keberlanjutan,” paparnya.

Pingkan Katharina dari Ditjen PRL KKP menyatakan program khusus perikanan gurita tidak ada karena fokus di biota perairan terancam punah dan prioritas konservasi. Pada 2020-2024, ada 20 jenis target prioritas konservasi rekomendasi LIPI dari 308 yang direkomendasikan. Satwa yang masuk terancam punah ini karena faktor alami dan aktivitas manusia seperti penangkapan berlebih, alat tangkap merusak, spesies invasif, dan kerusakan habitat.

Zona inti adalah daerah pemijahan, asuhan, dan mencari makan. Bisa termasuk kategori Rumah Boboca (gurita). Zona pemanfaatan terbatas sub zona perikanan terbatas. Pengelolaan berbasis masyarakat diyakini kunci keberhasilan konservasi. “Permasalahan utama perikanan gurita jika ada penurunan jumlah dan ukuran tangkapan dan kerusakan habitat,” urainya.

Gurita belum termasuk terancam punah atau daftar rekomendasi. “Tapi perlu diatur karena habitatnya di terumbu karang, jadi perlu dirawat. Perlu dikelola pemanfaatan dengan kebijakan alat tangkap ramah lingkungan. Tidak merusak karang,” tambahnya.

Kisah Pembelajaran

Gayatri dari Yayasan LINI membagi cerita tentang pengelolaan kuita, gurita dalam bahasa lokal Bajo oleh masyarakat Kepulauan Banggai, Sulawesi Tengah. Sejak 2017 bersama Yayasan Kali, mendampingi warga Pulau Banggai dan Peleng dalam pendataan gurita di tingkat pembeli desa atau pengepul. Pendataan dilakukan oleh ibu-ibu dan direkap Yayasan Kali.

Strategi lain dengan pembentukan kelompok nelayan gurita. Ada juga penutupan penangkapan sementara dilakukan dua kali di perairan Pulau Assaal. “Ketika dibuka setelah tiga bulan, jumlah gurita lebih banyak dan ukurannya lebih besar,” ujarnya.

Gayatri menyebut satu area masa penutupan sementara bisa sekitar 300 hektar di Pulau Banggai, dan nelayan akan pindah ke lokasi lain karena ada 70an lokasi penangkapan gurita. “Karena disepakati nelayan, pelanggaran minim. Kriteria areanya mudah diawasi, biasa dilewati nelayan, mereka mau berpartisipasi, dan produktif atau favorit menghasilkan gurita,” terangnya tentang wilayah penutupan sementara.

Gurita berusia pendek, dalam satu bulan beratnya bisa bertambah dua kali. Selama penutupan, mereka punya kesempatan membesar. Warga dilatih mengukur seperti panjang mantel, menentukan jantan betina, dan beratnya. Bagian dari pendataan.

Pembelajaran sejauh ini adalah masyarakat punya keinginan dalam konservasi dan pengelolaan sumberdaya perikanan, pendataan, pengawasan, dan pengelolaan habitat. “Gurita hidup terumbu karang, jadi perlu jaga habitatnya. Berharap pemerintah melihat potensi perikanan ini sehingga diperhatikan,” harap Gayatri.

Sedangkan Akbar Ario Digdo dari YAPEKA juga menjalankan strategi penutupan sementara daerah tangkapan gurita atau yang disebut Program Rumah Boboca di Desa Bulutui dan Gangga Satu, Minahasa Utara, Sulawesi Utara. Dari Manado sekitar satu jam berkendara darat dan dekat Taman Nasional Bunaken. Di kawasan sekitar juga ada rencana KEK Pariwisata Likupang.

Potensi perikanan gurita ini menurutnya bernilai ekonomi, karena dalam 26 bulan terakhir, hasilnya sekitar 68 ton di dua desa saja. Rata-rata per tahun 31 ton atau 2,6 ton/bulan. “Harga menarik dan rantai pasar cukup solid,” sebutnya. Total pendapatan sekitar Rp1,7 milyar per tahun.

“Rumah Boboca memastikan interaksi yang berimbang,” kata Akbar. Strategi ini juga mempertimbangkan cuaca, seperti Elnino parah pada 2015, kemungkinan terjadi lagi pada 2025. Fluktuasi harga dampak pandemi menekan harga menjadi Rp15 ribu, padahal sebelumnya Rp45-55 ribu pada 2018.

Sementara La Belero dari Forkani berbagi pengalaman pengelolaan kawasan berbasis masyarakat di Wakatobi, Sulawei Tenggara. Menurutnya warga sudah punya tradisi dan kearifan lokal dalam pengelolaan perikanan termasuk menentukan musim tangkapan gurita. Ada wilayah larangan penangkapan, kecuali keperluan masyarakat adat. “Ini bukan hal baru, tinggal direplikasi di tempat lain,” sebutnya.

Istilah konservasi untuk warga juga menurutnya kadang membingungkan, karena sudah dilakukan sesuai tradisi dan kebiasaan. “Wakatobi sebagai cagar biosfer sangat tergantung sumberdaya, jadi perlu keberlanjutan,” harapnya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed