oleh

Burnout Syndrome, Tekanan Luar Biasa yang Dialami oleh Tenaga Kesehatan Lawan Pandemi

Sekilas News – Natal kali ini tidak akan sama bagi umat Kristiani, termasuk bagi Tri Maharani, dokter spesialis di unit gawat darurat sebuah rumah sakit di Jawa Timur.

Ia masih tetap bertugas saat perayaan Natal tiba di tengah masih terus mengalirnya pasien.

Baca Juga: dr. Taufiq: 10 Vaksin WHO Masuk Fase 3 Masih di Bawah Standar, Sinovac adalah Terlucu dari 10 Vaksin Tersebut

Meski ia tidak secara langsung bertanggung jawab menangani pasien COVID-19, sebagai dokter UGD, Tri Maharani tetap menangani pasien yang diduga mengidap penyakit akibat virus corona.

Sebagai tenaga kesehatan yang berada di garda terdepan penanganan pandemi, Maharani mengaku mengalami tekanan luar biasa tanpa henti selama hampir 10 bulan ini.

Bahkan, Maharani sempat terinfeksi COVID-19 dari seorang pasien.

Ia menggambarkan masa-masa ketika ia terinfeksi pada Juli 2020, sebagai masa-masa yang paling sulit.

Baca Juga: Vaksin COVID Sinopharm China: Seberapa Efektif Itu?

Ia merasa berjuang sendirian.

“Saya ini sudah sakit. Sudah masuk ke ruang isolasi dan berjuang sendiri supaya anak buah saya tes usap tracing dan keluarga saya terus tes usap tracingNah, jadi, perubahan mentalnya itu terasa banget. Bagaimana saya betul-betul mengalami sebuah depresi yang berat karena merasa bahwa dalam perjuangan saya itu saya sendirian,” kata Maharani dilansir dari BBC News Indonesia.

Nggak ada yang mem-backing karena semua orang takut,” tambahnya.

Namun situasi itu, tidak membuat Maharani berhenti berjuang di tengah pandemi.

Setelah dinyatakan negatif COVID-19, Maharani kembali bertugas.

Ia bahkan membangun komunitas bagi para penyintas COVID-19 dan membantu meningkatkan kesadaran masyarakat di sekitarnya untuk melawan stigma terkait virus tersebut.

Baca Juga: COVID-19: Inggris Menetapkan Lockdown Tahun Baru Ketika Varian Baru Menyebar ke Seluruh Inggris

Maharani mengaku pilihan aktivitasnya itu bukan tanpa tantangan.

“Sebetulnya secara pribadi, hampir sembilan bulan itu lelah. Apalagi, tadi saya bilang, kami itu ada di dalam sebuah kondisi di mana ada kelelahan jasmani dan kelelahan mental, yang mungkin kami tidak bisa ngomong dengan banyak orang.

“Ketika kami membicarakan itu, semua orang bilang ‘lho kamu kan tenaga medis, tenaga kesehatan. Itu kan sudah tugas kamu. Kamu harus pengabdian.’ Dan sebagainya,” tutur dokter asal Kediri itu.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed