oleh

Bagaimanakah Nasib Terawan Setelah Dicopot sebagai Menkes?

Sekilas News – Selama menjabat Menteri Kesehatan, Terawan Agus Putranto melakukan banyak blunder. Salah satu dampaknya penanganan COVID-19 tak maksimal.

Presiden Joko Widodo mencopot Terawan Agus Putranto dari kursi Menteri kesehatan. Jokowi tak menjelaskan mengapa mantan Kepala RSPAD Gatot Subroto itu dicopot, namun ia memang banyak melakukan blunder selama menjabat. Misalnya perkara masker pada awal masa pandemi COVID-19.

Senin 2 Maret, saat konferensi pers di Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Sulianti Saroso, Terawan mengomeli para wartawan yang menggunakan masker.

Baca Juga: Burnout Syndrome, Tekanan Luar Biasa yang Dialami oleh Tenaga Kesehatan Lawan Pandemi

“Kok semua pakai masker?” katanya.

“Kalau sakit pakai masker, kalau sehat ya enggak usah, mengurangi oksigen tubuh.” Pernyataan bahwa masker hanya untuk orang sakit keliru.

Dalam kasus COVID-19 ada istilah orang tanpa gejala (OTG). Mereka telah terinfeksi dan mungkin menginfeksi orang. Tak pakai masker berarti memperbesar kemungkinan itu. Achmad Yurianto, ketika masih menjabat juru bicara pemerintah untuk penanganan COVID-19, lantas meminta semua orang baik yang sehat maupun yang sakit agar menggunakan masker satu bulan kemudian.

“Mulai hari ini, sesuai dengan rekomendasi dari WHO, kita jalankan masker untuk semua. Semua harus menggunakan masker,” kata Yurianto, Minggu 5 April.

Terawan juga beberapa kali ditegur Jokowi karena lambatnya penyerapan anggaran di Kementerian Kesehatan.

Baca Juga: Kenapa Rapid Test Antigen Baru Diberlakukan Sekarang? Ini Penjelasannya

“Bidang kesehatan dianggarkan Rp75 triliun, baru keluar 1,53 persen,” kata Jokowi, 18 Juni.

Menteri Keuangan Sri Mulyani juga mengatakan proses verifikasi di Kemenkes adalah biang keladi terhambatnya pencairan insentif untuk tenaga kesehatan.

“Saya tahu Kemenkes ingin berhati-hati, tapi ini sudah masuk Juni, jadi perlu segera belanja kesehatan,” ucap Sri Mulyani dalam rapat bersama Komisi XI DPR RI, empat hari kemudian.

Sekretaris Jenderal Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Fitra) Misbah Hasan ketika itu berkomentar Terawan tidak mengubah manajemen.

Ia disebut mengelola kementerian di masa pandemi sebagaimana di situasi normal. Terawan, kata Misbach, “terlihat gagap dan kurang tanggap di tengah COVID-19.”

Akibatnya penanganan COVID-19 di Indonesia amburadul. Co-founder PandemicTalks Firdza Radiani mengatakan tak ada rencana besar penanganan pandemi di Indonesia, yang semestinya jadi domain Terawan. Blunder Terawan lain juga untuk hal-hal yang tak terkait dengan penanganan COVID-19.

Ia misalnya mengabaikan rekomendasi anggota Ikatan Dokter Indonesia (IDI) saat merekomendasikan nama Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) periode 2020-2025. Asosiasi keberatan karena tak ada satu pun dari nama-nama tersebut yang merupakan rekomendasi mereka, padahal pemilihan anggota KKI mesti berdasarkan rekomendasi asosiasi, bukan hak prerogatif Terawan.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed